Memilih pemimpin itu seperti minum obat

Hari ini adalah hari dimana PILKADA DKI putaran kedua digelar, ada dua psangan calon yang akan memperebutkan suara masyarakat Jakarta, pasangan Foke-Nara & Jokowi-Ahok.

Menurut saya, memilih pemimpin itu layaknya kita “minum obat” saat kita sakit, jadi kita mesti menjadi selektif, mesti mencari yang tingkat madhorot (resiko negatif) nya paling kecil, musti memilih yang efek sampingnya paling sedikit, syukur-syukur yang tidak menimbulkan efek samping sama sekali.

Bagaimana cara kita tahu pilihan yang madhorotnya paling kecil?

Kita semua tahu bahwa hampir disetiap kemasan obat itu selalu mencantumkan “komposisi” dan “efek samping”, sama halnya dengan pemilukada, kita bisa melihat jejak rekam masing-masing psangan calon, bisa dari media, bisa dari survey, bisa juga karena kita mengerti & mengalami langsung rekam jejak masing-masing pasangan calon, misalkan masyarakat Jakarta pasti tahu rekam jejak Foke-Nara, masyarakat Jakarta yang pernah tinggal di Solo dan Bangka Belitung pasti tahu rekam jejak Jokowi dan Ahok.

Dari situ kita bisa simpulkan pasangan mana yang “menurut kita” mempunyai “efek samping” yang paling minim.

Untuk para pemilih yang sudah menentukan pilihannya diputaran pertama dan ternyata pilihannya kalah pada putaran pertama tersebut, saya ibaratkan orang sakit yang hendak minum obat tapi obat tersebut sudah tidak diproduksi lagi, jadi ya mau tidak mau memilih yang minim madhorotnya tadi, daripada tidak meminum obat sama sekali, maka sakitnya akan bertambah parah dan berlangsung lama. Memang suatu saat nanti tanpa kita meminum obat,  sakit tersebut akan sembuh sendiri, tapi… sembuh disini ada dua artian, sembuh karena menjadi sehat atau sembuh dalam artian “mati”, karena mati juga berarti sembuh dari sakit.

So… tentukan pilihan Anda, yakinkan hati bahwa ketika Tuhan menciptakan “sakit” maka Tuhan juga menciptakan “obat” untuknya.

Setting Parameter NDD Solaris 10

ndd gets and sets selected configuration parameters in  some kernel  drivers. Currently, ndd  only supports the drivers that implement the TCP/IP Internet  protocol family. Each driver chooses which parameters to make visible using ndd.

Since these parameters are usually tightly  coupled to the implementation, they are likely to change from release to release. Some parameters may be read-only.

Untuk melakukan tunning menggunakan ndd ini bisa dilakukan langsung dari console, misalkan :

# ndd -get /dev/tcp tcp_time_wait_interval
60000

60000 adalah nilah default untuk settingan tcp_time_wait_interval

Coba kita lakukan modifikasi

# ndd -set /dev/tcp tcp_time_wait_interval 10000

Ketika kita cek kembali, nilainya sudah berubah sesuai dengan nilai yang kita berikan

# ndd -get /dev/tcp tcp_time_wait_interval
10000

Nah pertanyaannya adalah bagaimana membuatnya menjadi permanen, atau ketika kita restart parameter tersebut tetap pada nilai yang kita kehendaki (bukan nilai default).

Caranya simple, oldway adalah masukkan settingan berikut di /etc/system tapi memodifikasi /etc/system adalah hal yang riskan jika kita bukan expert, karena salah-salah system kita tidak mau booting, jadi cara yang saya ambil adalah sebagai berikut:

Buat file/script dibawah /etc/init.d (ex: nddconfig)

vi /etc/init.d/nddconfig

#!/bin/sh
ndd -set /dev/tcp tcp_time_wait_interval 10000
ndd -set /dev/tcp tcp_conn_req_max_q 128
ndd -set /dev/tcp tcp_conn_req_max_q0 1024
ndd -set /dev/tcp tcp_conn_req_min 1
ndd -set /dev/tcp tcp_conn_grace_period 0
ndd -set /dev/tcp tcp_cwnd_max 1048576
ndd -set /dev/tcp tcp_debug 0
ndd -set /dev/tcp tcp_smallest_nonpriv_port 1024
ndd -set /dev/tcp tcp_ip_abort_cinterval 180000
ndd -set /dev/tcp tcp_ip_abort_linterval 180000
ndd -set /dev/tcp tcp_ip_abort_interval 480000
ndd -set /dev/tcp tcp_ip_notify_cinterval 10000
ndd -set /dev/tcp tcp_ip_notify_interval 10000
ndd -set /dev/tcp tcp_ipv4_ttl 64
ndd -set /dev/tcp tcp_keepalive_interval 7200000
ndd -set /dev/tcp tcp_maxpsz_multiplier 10
ndd -set /dev/tcp tcp_mss_def_ipv4 536
ndd -set /dev/tcp tcp_mss_max_ipv4 65495
ndd -set /dev/tcp tcp_mss_min 108
ndd -set /dev/tcp tcp_naglim_def 4095
ndd -set /dev/tcp tcp_rexmit_interval_initial 3000
ndd -set /dev/tcp tcp_rexmit_interval_max 60000
ndd -set /dev/tcp tcp_rexmit_interval_min 400
ndd -set /dev/tcp tcp_deferred_ack_interval 100
ndd -set /dev/tcp tcp_snd_lowat_fraction 0
ndd -set /dev/tcp tcp_sth_rcv_hiwat 0
ndd -set /dev/tcp tcp_dupack_fast_retransmit 3
ndd -set /dev/tcp tcp_ignore_path_mtu 0
ndd -set /dev/tcp tcp_smallest_anon_port 32768
ndd -set /dev/tcp tcp_largest_anon_port 65535
ndd -set /dev/tcp tcp_xmit_hiwat 49152
ndd -set /dev/tcp tcp_xmit_lowat 4096
ndd -set /dev/tcp tcp_recv_hiwat 49152
ndd -set /dev/tcp tcp_recv_hiwat_minmss 4
ndd -set /dev/tcp tcp_fin_wait_2_flush_interval 675000
ndd -set /dev/tcp tcp_co_min 64
ndd -set /dev/tcp tcp_max_buf 1048576
ndd -set /dev/tcp tcp_strong_iss 2
ndd -set /dev/tcp tcp_rtt_updates 20
ndd -set /dev/tcp tcp_wscale_always 1
ndd -set /dev/tcp tcp_tstamp_always 0
ndd -set /dev/tcp tcp_tstamp_if_wscale 1
ndd -set /dev/tcp tcp_rexmit_interval_extra 0
ndd -set /dev/tcp tcp_deferred_acks_max 2
ndd -set /dev/tcp tcp_slow_start_after_idle 4
ndd -set /dev/tcp tcp_slow_start_initial 4
ndd -set /dev/tcp tcp_co_timer_interval 20
ndd -set /dev/tcp tcp_sack_permitted 2
ndd -set /dev/tcp tcp_trace 0
ndd -set /dev/tcp tcp_compression_enabled 1
ndd -set /dev/tcp tcp_ipv6_hoplimit 60
ndd -set /dev/tcp tcp_mss_def_ipv6 1220
ndd -set /dev/tcp tcp_mss_max_ipv6 65475
ndd -set /dev/tcp tcp_rev_src_routes 0
ndd -set /dev/tcp tcp_local_dack_interval 50
ndd -set /dev/tcp tcp_ndd_get_info_interval 1000
ndd -set /dev/tcp tcp_local_dacks_max 8
ndd -set /dev/tcp tcp_ecn_permitted 1
ndd -set /dev/tcp tcp_rst_sent_rate_enabled 1
ndd -set /dev/tcp tcp_rst_sent_rate 40
ndd -set /dev/tcp tcp_push_timer_interval 50
ndd -set /dev/tcp tcp_use_smss_as_mss_opt 0
ndd -set /dev/tcp tcp_wroff_xtra 32
ndd -set /dev/tcp tcp_mdt_hdr_head_min 32
ndd -set /dev/tcp tcp_mdt_hdr_tail_min 32
ndd -set /dev/tcp tcp_mdt_max_pbufs 16

Simpan dan berikan permission secukupnya

chmod 755 /etc/init.d/nddconfig

Kemudian buar symlink agar script tersebut dijalankan setiap restart.

ln -s /etc/init.d/nddconfig /etc/rc2.d/S31nddconfig

Test dengan restart kemudian jalankan ndd -get parameter yang dikehendaki, jika hasilnya sesuai settingan kita berarti anda layak dapat bintang, jika tidak berhasil berarti kesalahan bukan pada tutorial ini melainkan pada layar komputer Anda :D.

SOLVED – Problem login remote menggunakan ssh yang memakan waktu lama

Saya menemukan beberapa server saya nggak responsif saat saya melakukan remote menggunakan ssh, berikut adalah solusi atas masalah tersebut.

Pertama-tama kita harus tau proses apa yang menyebabkan lama, untuk memastikan masalahnya, saya coba jalankan ssh ke mesin remote menggunakan “-v” atau verbose, dari situ saya bisa melihat proses apa yang memakan waktu lama.

# ssh -v user@10.x.x.x

debug1: Authentications that can continue: publickey,gssapi-keyex,gssapi-with-mic,password
debug1: Next authentication method: gssapi-keyex
debug1: No valid Key exchange context
debug1: Next authentication method: gssapi-with-mic

terlihat proses autentikasi menggunakan “gssapi-keyex,gssapi-with-mic” yang membuat proses login menjadi agak lama.

Solusinya kita modifikasi berkas konfigurasi ssh tepatnya pada “GSSAPI options” di server remote menjadi:

vi /etc/ssh/sshd_config

# GSSAPI options
#GSSAPIAuthentication no
#GSSAPIAuthentication yes
#GSSAPICleanupCredentials yes
#GSSAPICleanupCredentials yes
#GSSAPIStrictAcceptorCheck yes
#GSSAPIKeyExchange no

kemudian restart service ssh nya.

/etc/init.d/sshd restart

Uji kembali ssh ke server remote, dan Solved!

Instalasi dan konfigurasi DNS menggunakan BIND di Debian 6 “squeeze”

Dicatat biar nggak lupa…

Install bind, pastikan komputer Anda sudah terkoneksi dengan Internet

# apt-get update
# apt-get install bind9

# cd /etc/bind/

Ubah isi dari berkas named.conf.default-zones menjadi seperti ini:

zone “.” {
type hint;
file “/etc/bind/db.root”;
};

zone “aqila.web.id” {
type master;
file “/etc/bind/db.aqila”;
};

zone “10.in-addr.arpa” {
type master;
file “/etc/bind/db.10”;
};

Salin tempel konfigurasi

# cp db.local db.aqila
# cp db.127 db.10

Ubah isi dari berkas db.aqila menjadi seperti ini:

$TTL    604800
@       IN      SOA     aqila.web.id. admin.aqila.web.id. (
2         ; Serial
604800         ; Refresh
86400         ; Retry
2419200         ; Expire
604800 )       ; Negative Cache TTL
;
@       IN      NS      aqila.web.id.
@       IN      A       10.87.17.251
www     IN      A       10.87.17.251

Ubah isi dari berkas db.10 menjadi seperti ini:

$TTL    604800
@       IN      SOA     aqila.web.id. admin.aqila.web.id. (
1         ; Serial
604800         ; Refresh
86400         ; Retry
2419200         ; Expire
604800 )       ; Negative Cache TTL
;
@       IN      NS      aqila.web.id.
10      IN      PTR     aqila.web.id.

Ubah isi dari berkas /etc/resolv.conf menjadi seperti ini:

nameserver 127.0.0.1

Restart service bind

# /etc/init.d/bind9 restart

Testing menggunakan ping dan dig untuk memastikan semua konfigurasi sudah benar.